Jumat, 22 September 2017

Perubahan Fisiologi Pada Kehamilan

Dengan terjadinya kehamilan maka seluruh sistem genitalia wanita mengalami perubahan yang mendasar sehingga dapat menunjang perkembangan dan pertumbuhan janin dalam rahim. Plasenta dalam perkembangannya mengeluarkan hormon somatomamotropin, estrogen, dan progestron yang menyebabkan perubahan pada bagian-bagian tubuh dibawah ini.

Uterus
Rahim atau uterus yang semula besarnya sejempol atau beratnya 30 gram akan mengalami hipertrofi dan hiperplasia, sehingga menjadi seberat 1000 gram saat akhir kehamilan. Otot rahim mengalami hiperplasia dan hipertrofi menjadi lebih besar, lunak, dan dapat mengikuti pembesaran rahim karena pertumbuhan janin.

Perubahan pada isthmus uteri (rahim) menyebabkan isthmus menjadi lebih panjang dan lunak sehingga pada pemeriksaan dalam seolah-olah kedua jari dapat saling sentuh. Perlunakan isthmus disebut tanda hegar. Hubungan antara besarnya rahim dan usia kehamilan penting untuk diketahui karena kemungkinan penyimpangan kehamilan seperti hamil kembar, hamil mola hidatidosa, hamil dengan hidramnion, yang akan teraba lebih besar.

Sebagai gambaran dapat dikemukakan sebagai berikut :
  • Pada usia kehamilan 16 minggu, kavum uteri seluruhnya diisi oleh amnion, di mana desidua kapsularis dan desidua parietalis telah menjadi satu. Tinggi rahim adalah setengah dari jarak simfisis dan pusat. Plasenta telah terbentuk seluruhnya.
  • Pada kehamilan usia 20 minggu, fundus rahim terletak dua jari dibawah pusat  sedangkan pada usia 24 minggu tepat di tepi diatas atas pusat.
  • Pada usia kehamilan 28 minggu, tinggi fundus uteri sekitar 3 jari diatas pusat atau sepertiga jarak antara pusat dan prosesus xifoideus.
  • Pada usia kehamilan 32 minggu, tinggi fundus uteri adalah setengah jarak prosesus xifoideus dan pusat.
  • Pada usia kehamilan 36 minggu, tinggi fundus uteri sekitar satu jari di bawah prosesus xifoideus, dan kepala bayi belum masuk pintu atas panggul.
  • Pada usia kehamilan 40 minggu, fundus uteri turun setinggi tiga jari dibawah prosesus xifoideus, oleh karena saat ini kepala janin telah masuk pintu atau panggul.
Panjang fundus uteri pada usia kehamilan 28 minggu adalah 25 cm, pada usia kehamilan 32 minggu panjangnya, 27 cm, dan umur hamil 36 minggu, panjangnya 30 cm. Regangan dinding rahim karena besarnya pertumbuhan dan perkembangan janin menyebabkan isthmus  uteri makin tertarik ke atas dan menipis di segmen bawah rahim (SBR).

Pertumbuhan rahim ternyata tidak sama kesemua arah, tetapi terjadi pertumbuhan yang cepat di daerah implantasi plasenta, sehingga rahim bentuknya tidak sama. Bentuk rahim yang tidak sama disebut tanda piskaseck.

Perubahan konsentrasi hormonal yang memengaruhi rahim, yaitu estrogen dan progestron menyebabkan progestron mengalami penurunan dan menimbulkan kontraksi rahim yang disebut Braxton Hicks. Terjadinya kontraksi Braxton Hicks, tidak dirasakannyeri dan terjadi bersamaan di seluruh rahim. Kontraksi Braxton Hicks akan berlanjut menjadi kontraksi untuk persalinan.

Bersamaan dengan pertumbuhan dan perkembangan janin dalam rahim, diikuti oleh makin besarnya aliran darah menuju rahim dari arteri uterina dan arteri ovarika. Otot rahim mempunyai susunan istimewa yaitu longitudinal, sirkuler, dan oblika sehingga keseluruhannya membuat anyaman yang dapat menutup pembuluh darah dengan sempurna. Meningkatnya pembuluh darah menuju rahim memengaruhi serviks yang akan mengalami perlunakan. Serviks hanya memiliki sekitar 10% jaringan otot.

Pada saat persalinan, terjadi pembukaan serviks secara pasif, karena kuatnya kontraksi otot rahim. Segera setelah persalinan, serviks yang sedikit mempunyai otot, akan melipat dan terjadi pengecilan dengan pasif. Serviks yang sedikit mempunyai otot, tetap terbuka, tanpa mekanisme sfingter, sehingga memberikan kesempatan untuk mengeluarkan lokia. Pada pemeriksaan postpartum, serviks multipara mempunyai dua bibir, bibir atas dan bibir bawah.

Vagina
Vagina dan vulva mengalami peningkatan pembuluh darah karena karena pengaruh estrogen sehingga tampak makin berwarna merah dan kebiru-biruan (tanda chadwicks).

Ovarium
Dengan terjadinya kehamilan, indung telur yang mengandung korpus luteum gravidarum akan meneruskan fungsinya sampai terbentuknya plasenta yang sempurna pada usia 16 minggu. Kejadian ini tidak dapat lepas dari kemampuan vili korealis yang mengeluarkan hormon korionik gonatodropin yang mirip dengan hormon luteotropik hipofisis anterior.

Payudara
Payudara mengalami pertumbuhan dan perkembangan sebagai persiapan memberikan ASI pada saat laktasi. Perkembangan payudara tidak dapat dilepaskan dari pengaruh hormon saat kehamilan, yaitu estrogen, progestron, dan somatomamotrofin.

Fungsi hormon mempersiapkan payudara untuk memberikan ASI dijabarkan sebagai berikut :
a. Estrogen, berfungsi :
  •  Menimbulkan hipertrofi sistem saluran payudara 
  •  Menimbulkan penimbunan lemak dan air serta garam sehingga payudara tampak makin membesar.
  •  Tekanan serat saraf akibat penimbunan lemak, air, dan garam menyebabkan rasa sakit pada   payudara.
b. Progesteron, berfungsi :
  • Mempersiapkan asinus sehingga dapat berfungsi.
  • Meningkatkan jumlah sel asinus.
c. Somatomamotrofin, berfungsi :
  • Memengaruhi sel asinus untuk membuat kasein, laktalbumin, dan laktoglobulin.
  • Penimbunan lemak di sekitar alveolus payudara.
  • Merangsang pengeluaran kolostrum pada kehamilan.

Sirkulasi Darah Ibu 
Peredaran darah ibu dipengaruhi beberapa faktor, antara lain :
  • Meningkatnya kebutuhan sirkulasi darah sehingga dapat memenuhi kebutuhan perkembangan dan pertumbuhan janin dalam rahim.
  • Terjadi hubungan langsung antara arteri dan vena pada sirkulasi retro plasenter.
  • Pengaruh hormon estrogen dan progesteron makin meningkat.
Akibat dari faktor tersebut dijumpai beberapa perubahan peredaran darah.

Volume darah. Volume darah semakin meningkat dan jumlah serum darah lebih besar dari pertumbuhan sel darah, sehingga terjadi pengenceran darah  (hemodilusi), dengan puncaknya pada usia kehamilan 32 minggu. Serum darah (volume darah) bertambah sebesar 25-30% sedangkan sel darah bertambah sekitar 20%. Curah jantung akan bertambah sekitar 30%. Bertambahnya hemodilusi darah mulai tampak sekitar usia kehamilan 16 minggu, sehingga penderita penyakit jantung harus berhati-hati untuk hamil beberapa kali. Kehamilan selalu memberatkan kerja jantung sehingga wanita hamil dengan sakit jantung dapat jatuh dengan dekompensasi kordis. Pada postparfum, terjadi hemokonsentrasi dengan puncak hari ke tiga sampai kelima.

Sel darah. Sel darah merah makin meningkat jumlahnya untuk dapat mengimbangi pertumbuhan janin didalam rahim, tapi pertambahan darah tidak seimbang dengan peningkatan volume darah sehingga terjadi hemodilusi yang disertai anemia fisiologis. Jumlah sel darah putih meningkat hingga mencapai 10.000/mil. Dengan hemodilusi dan anemia fisiologis maka laju endap darah semakin tinggi dan dapat mencapai 4 kali dari angka normal.

Protein darah dalam bentuk albumin dan gamaglobulin dapat menurun dalam triwulan pertama, sedangkan fibrinogen meningkat. Pada postpartum dengan terjadinya hemokonsentrasi dapat terjadi tromboflebitis.

Sistem respirasi. Pada kehamilan, terjadi juga perubahan sistem respirasi untuk dapat memenuhi kebutuhan oksigen. Di samping itu, terjadi desakan diafragma karena dorongan rahim yang membesar pada usia kehamilan 32 minggu. Sebagai kompensasi terjadinya desakan rahim dan kebutuhan oksigen yang meningkat, ibu hamil akan bernapas lebih dalam sekitar 20-25% daripada biasanya.

Sistem pencernaan. Oleh karena pengaruh estrogen, pengeluaran asam lambung meningkat dan dapat menyebabkan :
  • Pengeluaran air liur berlebihan (hipersalivasi).
  • Daerah lambung terasa panas. 
  • Terjadi mual dan sakit/ pusing kepala trauma pagi hari, yang disebut morning sickness.
  • Muntah, yang terjadi disebut emesis gravidarum.
  • Muntah berlebihan sehingga mengganggu kehidupan sehari-hari, disebut hiperemesis gravidarum.
  •  Progesteron menimbulkan gerak usus makin berkurang dan dapat menyebabkan obstipasi.
Traktus urinarius. Karena pengaruh desakan hamil muda dan turunnya kepala bayi pada hamil tua, terjadi gangguan miksi dalam bentuk sering berkemih. Desakan tersebut menyebabkan kandung kemih cepat terasa penuh. Hemodilusi menyebabkan metabolisme air makin lancar sehingga pembentukan urine akan bertambah. Filtrasi pada glomerulus bertambah sekitar 69 sampai 70%. Pada kehamilan, ureter membesar untuk dapat menampung banyaknya pembentukan urine, terutama pada ureter kanan karena peristaltik ureter terhambat karena pengaruh progesteron, tekanan rahim yang membesar dan terjadi perputaran ke kanan, dan terdapat kolon dan sigmoid disebelah kiri yang menyebabkan perputaran rahim kekanan. Tekanan rahim pada ureter kanan dapat menyebabkan infeksi pielonefritis ginjal kanan.

Perubahan pada kulit. Pada kulit terjadi perubahan deposit pigmen dan hiperpigmentasi karena pengaruh melanophore stimulating harmone lobus hipofisis anterior dan pengaruh kelenjar suprarenalis. Hiperpigmentasi ini terjadi pada striae gravidarum livide atau alba, areola mamae, papilla mamae, linea nigra, pipi (khloasma gravidarum). Setelah persalinan hiperpigmentasi akan menghilang.

Metabolisme. Dengan terjadinya kehamilan, metabolisme tubuh mengalami perubahan yang mendasar, dimana kebutuhan nutrisi makin tinggi untuk pertumbuhan janin dan persiapan memberikan ASI. Memperhatikan hal tersebut dapat dikemukakan bahwa ibu hamil memerlukan makanan yang mempunyai nilai gizi yang tinggi. Oleh karena itu, perlu diperhatikan susunan makanan "empat sehat" dan "lima sempurna". Saat ini, di indonesia sudah banyak menawarkan tambahan gizi ibu hamil dengan susu yang berkualitas. Kombinasi vitamin dan mineral yang diperlukan banyak ditawarkan untuk ibu hamil seperti obimin A.F., Vicanatas, natalice, obiron, ultravita, dan Grevital dengan susunan sesuai dengan kebutuhan.

Plasenta dan Air Ketuban
Plasenta berbentuk bundar dengan ukuran 15 cm x 20 cm dengan tebal 2,5 sampai 3 cm dan berat plasenta 500 g. Tali pusat yang menghubungan plasenta panjangnya 25 sampai 60 cm. Tali pusat terpendek yang pernah dilaporkan adalah 2,5 cm dan terpanjang sekitar 200 cm. Plasenta terbentuk sempurna pada minggu ke-16 dimana desidua parietalis dan desidua kapsularis telah menjadi satu. Sebelum plasenta terbentuk sempurna dan sanggup untuk memelihara janin, fungsinya dilakukan oleh korpus luteum gravidarum. Saat nidasi vili korialis mengeluarkan hormon korionik gonadotropin sehingga korpus luteum dapat bertahan.

Implantasi plasenta terjadi pada fundus uteri depan atau belakang. Fungsi plasenta dapat dilaksanakan melalui sirkulasi retroplasenter dengan terbukanya arteri spiralis dan vena di dasar desidua basalis. Dibagian tepi plasenta, terdapat ruangan agak lebar sebagai penampung sementara darah sebelum masuk menuju sirkulasi darah ibu. Sirkulasi retroplasenta terjadi karena aliran darah arteri spiralis dengan tekanan 70 mmHg sampai 80 mmHg sedangkan tekanan darah pada vena di dasar desidua basalis 20 mmHg sampai 30 mmHg. Aliran darah arteri seolah-olah tegak lurus untuk mencapai plat korionik di bagian plasenta fetalis dalam ruangan intervili. Dengan perbedaan tekanan tersebut terjadi aliran darah yang memberikan kesempatan luas bagi vili korialis untuk melakukan pertukaran nutrisi. Disamping itu, vili korialis bergerak-gerak karena aliran darah ibu dan terjadinya kontraksi ringan memberikan peluang untuk makin sempurnanya pertukaran nutrisi.

Sebagai gambaran, pertukaran nutrisi dapat dijelaskan : Luas vili korialis sebesar 11 meter persegi, volume intervili  sebesar 150 sampai 250 ml, peredaran darah 300 cc setiap menit pada usia kehamilan 20 minggu, 600 cc setiap menit pada usia kehamilan 40 minggu.

Plasenta
Plasenta merupakan akar janin untuk mengisap nutrisi dan ibu dalam bentuk oksigen, asam amino, vitamin, mineral, dan zat lainnya ke janin dan membuang sisa metabolisme janin dan karbondioksida.

beberapa hormon yang dihasilkan plasenta :

Korionik gonadotropin :
  • Merangsang korpus luteum menjadi korpus luteum gravidarum sehingga tetap mengeluarkan estrogen dan progesteron, dan korpus luteum berfungsi sampai plasenta sempurna.
  • Bersifat khas kehamilan sehingga dapat dipakai sebagai hormon tes kehamilan.
  • Puncaknya tercapai pada hari ke-60.
  • Setelah persalinan, dalam urine tidak dijumpai.
Korionik somatomamotrofin :
  • Hormon untuk metabolisme protein
  • Bersifat laktogenik dan luteotropik
  • Menimbulkan pertumbuhan janin
  • Mengatur metabolisme karbohidrat dan lemak
Estrogen plasenta. Estrogen plasenta dalam bentuk estradiol, estriol, dan estron. Estrogen plasenta mempunyai fungsi :
  • Pertumbuhan dan perkembangan otot rahim
  • Retensi air dan garam 
  • Perkembangan tubulus payudara sebagai persiapan ASI
  • Melaksanakan sintesis protein
Progestron. Awal kehamilan diproduksi oleh korpus luteum dan plasenta. Progestron berfungsi untuk:
  • Penenang otot rahim selama kehamilan
  • Bersama estrogen mengaktifkan tubulus dan alveolus payudara 
  • Menghambat proses pematangan folikel de Graaf  sehingga tidak terjadi ovulasi 
  • Menghambat pengeluaran LH

Daftar Pustaka

dr. Ida Ayu Candranita Manuaba,SpOG, dr. Ida Bagus Gde Fajar Manuaba,SpOG, Prof. dr. Ida Bagus Gde Manuaba,SpOG (K), Buku Kedokteran EGC, 2005. Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan dan KB Untuk Pendidikan Bidan Edisi 2. P.O.Box 4276/jakarta 10042.

    Tidak ada komentar:

    Posting Komentar