Jumat, 11 Agustus 2017

Tentang penyakit Gula Atau Diabetes Mellitus

Diabetes mellitus merupakan sekelompok kelainan heterogen yang ditandai oleh kelainan kadar glukosa dalam darah atau hiperglikemia. Glukosa dibentuk dihati dari makanan yang dikonsumsi. Insulin, yaitu suatu hormon yang di produksi pankreas, mengendalikan kadar glukosa dalam darah dengan mengatur produksi dan penyimpanannya.

Pada diabetes, kemampuan tubuh untuk bereaksi terhadap insulin dapat menurun, atau pankreas dapat menghentikan sama sekali produksi insulin. Keadaan ini menimbulkan hiperglikemia yang dapat mengakibatkan komplikasi metabolik akut seperti diabetes ketoasidosis dan sindrom hiperglikemik hiperosmoler nonketotik ( HHNK). Hiperglikemia jangka panjang dapat ikut menyebabkan komplikasi mikrovaskuler yang kronis ( Penyakit ginjal Dan Mata ) dan komplikasi neoropati ( Penyakit Pada Saraf ). 

Diabetes juga disertai dengan peningkatan insidens penyakit makrovaskuler  yang mencakup infark miokard, stroke dan penyakit vaskuler perifer.

Tipe Diabetes 
Ada beberapa tipe diabetes melitus yang berbeda ; penyakit ini dibedakan berdasarkan penyebab, perjalanan klinik dan terapinya. klasifikasi diabetes yang utama adalah :
  • Tipe I   : Diabetes melitus tergantung insulin ( Insulin-dependent diabetes melitus (IDDM))
  • Tipe II   : Diabetes Mellitus tidak tergantung insulin ( Non-Insulin-dependent-diabetes-mellitus (NIDDM))
  • Diabetes mellitus yang berhubungan dengan keadaan atau sindrom lainnya.
  • Diabetes mellitus gestasional (gestational diabetes mellitus (GDM))
Kurang lebih 5% hingga 10% penderita mengalami diabetes tipe I, yaitu diabetes yang tergantung insulin. Pada diabetes jenis ini, sel-sel beta pankreas yang dalam keadaan normal menghailkan hormon insulin dihancurkan oleh suatu proses otoimun. Sebagai akibatnya, penyuntikan insulin diperlukan untuk mengendalikan kadar glukosa darah. Diabetes tipe I ditandai oleh awitan mendadak yang biasanya terjadi pada usia 30 tahun.

Kurang lebih 90% hingga 95% penderita mengalami diabetes tipe II, yaitu diabetes yang tidak tergantung insulin. Diabetes tipe II terjadi akibat penurunan sensitivitas terhadap insulin ( yang disebut resistensi insulin ) atau akibat penurunan jumlah produksi insulin. Diabetes tipe II pada mulanya diatasi  dengan diet dan latihan. Jika kenaikan glukosa darah tetap terjadi, terapi diet dan latihan tersebut dilengkapi dengan obat hipoglikemik oral. Pada sebagian penyandang diabetes tipe II, obat oral tidak mengendalikan keadaan hiperglikemia sehingga diperlukan penyuntikan insulin. Di samping itu, sebagian penyandang diabetes tipe II yang dapat mengendalikan penyakit diabetesnya dengan diet, latihan dan obat hipoglikemia oral mungkin memerlukan penyuntikan insulin dalam periode stres fisiologik akut ( seperti sakit atau pembedahan ). Diabetes tipe II paling sering ditemukan pada individu yang berusia lebih dari 30 tahun dan obesitas.

Komplikasi diabetes dapat terjadi pada setiap individu dengan diabetes tipe I atau tipe II dan bukan hanya pada pasien yang memerlukan insulin. Sebagian penyandang diabetes tipe II yang mendapat terapi obat oral mempunyai kesan bahwa mereka tidak sungguh-sungguh menderita diabetes  atau hanya memiliki diabetes "borderline". Penyandang diabetes ini mungkin beranggapan bahwa penyakit diabetes yang mereka derita bukanlah suatu masalah "serius" jika dibandingkan dengan pasien diabetes yang memerlukan penyuntikan insulin. Disini perawat mempunyai tugas penting untuk menekankan kepada orang-orang tersebut bahwa mereka sesungguhnya menderita diabetes dan bukan sekedar diabetes "borderline" yang berhubungan dengan masalah toleransi gula ( TGT = Toleransi Glukosa Terganggu), dan merupakan keadaan dimana kadar glukosa darah berada diantara kadar normal dan kadar yang dianggap sebagai tanda diagnostik untuk penyakit diabetes.

Daftar Pustaka

Suzanne C. Smeltzer dan Brenda G. Bare, Buku Kedokteran EGP, 1997. Buku Ajar Keperawatan Medikal-Bedah, Edisi 8 Vol. 2. Jakarta 10042


Tidak ada komentar:

Posting Komentar